MISUNDERSTANDING OF CULTURE VALUES DALAM INTERAKSI SOSIAL ANTAR BUDAYA

`MISUNDERSTANDING OF CULTURE VALUES DALAM INTERAKSI SOSIAL ANTAR BUDAYA

 

Makalah

Disusun guna memenuhi tugas

Mata kuliah                 : Sosiologi

Dosen pengampu        : Syamsul Bakhri, M. Sos.



 Disusun Oleh:

1.     Erna Hidayah (3419084)

 

                Kelas: A

 

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB  DAN DAKWAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN

  2020

 

 

 

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah SWT. Berkat limpahan rahmat-Nya penyusun  mampu  menyelesaikan makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah  yang berjudul “Misunderstanding Of Culture Values dalam Interaksi Sosial Antar Budaya”. Serta shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi besar Muhammad SAW, semoga kelak kita mendapatkan syafaatnya di yaumul akhir nanti.

Dalam penyusunan makalah ini, kami berharap makalah ini dapat berguna bagi mahasiswa IAIN PEKALONGAN, dan dalam perkuliahan khususnya mata kuliah Sosiologi. Adapun makalah ini kami susun dengan sebenar-benarnya serta dengan sumber yang akurat, dan apabila dalam makalah ini terdapat kekurangan atau kesalahan baik dalam isi, penulisan, maupun segi bahasa, kami mohon maaf atas ketidak telitian tersebut.

Karena Kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Mohon maklum karena kami masih dalam proses pembelajaran, serta kami siap diberi masukkan dan bimbingan. Sekian, pengantar yang dapat kami sampaikan. Semoga kelak makalah ini dapat bermanfaat dalam pembelajaran mata kuliah ini.

 

 

 

Pekalongan, 4 Juni 2020

 

 

Penulis

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

Halaman Judul ........................................................................................................................ i

Kata Pengantar ...................................................................................................................... ii

Daftar Isi .............................................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang........................................................................................................... 4

B.    Rumusan Masalah....................................................................................................... 5

C.    Tujuan......................................................................................................................... 5

BAB II PEMBAHASAN

A.    Interaksi Sosial dalam Masyarakat............................................................................. 6

B.    Bentuk-bentuk Interaksi Sosial.................................................................................. 7

C.    Misunderstanding Of Culture Values........................................................................ 9

BAB III PENUTUP

A.  Simpulan................................................................................................................... 11

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar  Belakang

Kehidupan manusia selalu dihadapkan pada berbagai fenomena pluralitas. Pluralitas warna kulit, pluralitas etnik, pluralitas agama, dan pluralitas bahasa. Bentuk interaksi Manusia dengan manusia yang lain dapat berbentuk Asosiatif maupun Disosiatif. Beberapa permasalahan yang dapat menghasilkan bentuk interaksi sosial yang sifatnya asosiatif adalah, etnosentrisme, misunderstanding of culture value, stereotip, dan prasangka.[1]

Dalam konteks interaksi antara individu atau masyarakat yang berbeda etnik dalam suatu komunitas wilayah tertentu yang merupakan ciri masyarakat majemuk, biasanya berlangsung proses adaptasi, asimilasi, dan juga konflik. Adaptasi merupakan proses penyesuaian diri seseorang dengan lingkungan sebagai konsekuensi dari pengorganisasian penduduk.[2]

            Di era yang semakin maju ini tentu masyarakat banyak yang memanfaatkan IPTEK terutama dalam berinteraksi. Mudahnya berinteraksi mengakibatkan setiap bangsa Indonesia dapat saling berinteraksi bahkan bisa dengan bahasa mereka masing-masing. Tujuannya untuk berbagi bahasa atau kebudaayan mereka masing-masing. Tentunya Sebuah tujuan yang ingin dicapai tidaklah mudah, dalam proses pencapaiannya pasti akan ada kendala/rintangan yang menghambat. [3]Salah satu kendala yang terasa jelas adalah kesalahpahaman nilai budaya, karena itu, dalam makalah ini akan membahas fenomena beberapa bahasa yang dimaknai salah oleh budaya lain.

 

B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana identifikasi interaksi sosial yang terjadi dalam masyarakat?

2.      Apa saja bentuk interaksi sosial dalam masyarakat?

3.      Bagaimana masalah interaksi yang berkaitan dengan kesalahpahaman nilai budaya?

 

C.    Tujuan

1.      Mengidentifikasi interaksi sosial yang terjadi dalam masyarakat

2.      Mengetahui bentuk dari interaksi sosial yang terjadi dalam masyarakat

3.      Mengetahui masalah interaksi yang berkaitan dengan kesalahpahaman nilai budaya

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

A.   Interaksi Sosial dalam Masyarakat

Interaksi sosial dapat diartikan sebagai hubungan-hubungan sosial yang

dinamis. Berupa hubungan antara individu yang satu dengan individu lainnya, antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya, maupun antara kelompok dengan individu. Proses Interaksi sosial menurut Herbert Blumer adalah pada saat manusia bertindak terhadap sesuatu atas dasar makna yang dimiliki sesuatu tersebut bagi manusia. Kemudian makna yang dimiliki sesuatu itu berasal dari interaksi antara seseorang dengan sesamanya. Dan terakhir adalah Makna tidak bersifat tetap namun dapat dirubah, perubahan terhadap makna dapat terjadi melalui proses penafsiran yang dilakukan orang ketika menjumpai sesuatu. Proses tersebut disebut juga dengan interpretative process.[4]

Di dalam kehidupan bermasyarakat manusia dituntut untuk dapat menyelaraskan perannya sebagai makhluk sosial. Manusia dalam menjalankan hidupnya akan membutuhkan satu sama lain. Komunikasi antarbudaya terjadi bila produsen pesan adalah budaya lain dan penerima pesannya merupakan anggota budaya lain (Sihabudin, 2011:21). Sementara itu, budaya merupakan tatanan pengetahuan, kepercayaan, nilai, sikap, objek-objek materi dan milik yang diperoleh kelompok orang besar dari generasi ke generasi melalui usaha individu dan kelompok (Mulyana dan Rakhmat, 2010:18).[5]

Komunikasi antarbudaya yaitu proses komunikasi yang melibatkan orang-orang yang berasal dari latar belakang sosial budaya yang berbeda. Dalam keadaan ini komunikator dan komunikan sering dihadapkan pada kesalahan penafsiran pesan, karena masing-masing individu memiliki budaya berbeda, karenanya ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda, juga menentukan cara berkomunikasi kita yang sangat dipengaruhi oleh bahasa, aturan dan norma yang ada pada masing-masing budaya. Dalam komunikasi antarbudaya menggunakan komunikasi verbal (bahasa) yaitu lambang terpenting yang dapat disampaikan secara langsung dengan berbicara ataupun tertulis, bahasa merupakan sarana dalam melakukan interaksi untuk mengkomunikasikan pikiran dan perasaan kita.[6]

B.    Bentuk Interaksi Sosial

 Interaksi sosial dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu asosiatif dan disosiatif

1.      Proses Asosiatif (Processes of Association)

a.     Kerja Sama (Cooperation)

Kerjasama terbentuk karena masyarakat menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama sehingga sepakat untuk bekerjasama dalam mencapai tujuan bersama.[7] Kerja sama mungkin akan bertambah kuat apabila ada bahaya luar yang mengancam atau ada tindakan-tindakan luar yang menyinggung kesetiaan yang secara tradisional atau institusional telah tertanam di dalam kelompok, dalam diri seseorang atau segolongan orang.[8]

b.      Akomodasi

Akomodasi merupakan suatu proses penyesuaian antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok guna mengurangi, mencegah, atau mengatasi ketegangan dan kekacauan.[9]

c.      Asimilasi (Assimilation)

 Asimilasi merupakan proses sosial dalam taraf lanjut. Ia ditandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antara orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia dan juga meliputi usahausaha untuk mempertinggi kesatuan tindak, sikap dan proses-proses mental dengan memperhatikan kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan bersama.[10]

d.    Akulturasi

Proses sosial yang timbul, apabila suatu kelompok masyarakat manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur - unsur dari suatu kebudayaan asing sedemikian rupa sehingga lambat laun unsur - unsur kebudayaan asing itu diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri, tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian dari kebudayaan itu sendiri.[11]

 

2.      Proses Disosiatif

Interaksi sosial ini mengarah pada bentuk pemisahan dan terbagi dalam tiga bentuk sebagai berikut:

a.          Persaingan/kompetisi adalah perjuangan oleh perorangan atau kelompok sosial tertentu, untuk memperoleh kemenangan atau hasil secara kompetitif, tanpa menimbulkan ancaman atau benturan fisik di pihak lawannya.

b.         Kontravensi adalah bentuk proses sosial yang berada di antara persaingan dan pertentangan atau konflik. Wujud kontravensi antara lain sikap tidak senang, baik secara tersembunyi maupun secara terang - terangan seperti perbuatan menghalangi, menghasut, memfitnah, berkhianat, provokasi, dan intimidasi yang ditunjukan terhadap perorangan atau kelompok atau terhadap unsur - unsur kebudayaan golongan tertentu. Sikap tersebut dapat berubah menjadi kebencian akan tetapi tidak sampai menjadi pertentangan atau konflik.

c.          Konflik Adalah proses sosial antar perorangan atau kelompok masyarakat tertentu, akibat adanya perbedaan paham dan kepentingan yang sangat mendasar, sehingga menimbulkan adanya semacam gap atau jurang pemisah yang mengganjal interaksi sosial di antara mereka yang bertikai tersebut.[12]

C.    Misunderstanding Of Culture Values

 Indonesia terdiri dari berbagai etnis dan budaya yang berbeda-beda. Setiap suku bangsa dan budaya yang ada di Indonesia memiliki ciri khas masing-masing. Semua menunjukkan adanya perbedaan, keragaman dan keunikan, namun tetap dalam satu kesatuan yang utuh sesuai dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Uniknya perbedaan suku bangsa dan budaya pada setiap individu melebur menjadi satu kesatuan keluarga, yang kemudian dari keluarga akan melebur menjadi satu ikatan sosial. Keragaman tersebut disebut dunga dengan pluralitas. Tidak hanya budaya dan suku bangsa saja, bahasa juga merupakan salah satu perbedaan yang seringkali dimaknai berbeda dengan makna yang sebenarnya.

Keberagaman suku bangsa, agama, budaya, dan bahasa seringkali ada dalam setiap lingkungan masyarakat. Biasanya perbedaan terjadi pada daerah yang jaraknya lebih jauh, tapi tanpa disadari daerah di sekitarpun berpotensi memiliki budaya, agama, dan bahasa yang berbeda. Contoh masyarakat di pekalongan, tentu penduduknya tidak pure dari pekalongan semua. Tetapi karna adanya suatu pernikahan antar individu seperti suku jawa dan sunda. Tentunya akan berdampak pada bahasa sunda yang akan didengar oleh masyarakat pekalongan yang ada disekitarnya.

Adanya persamaan bahasa tetapi beda makna, menjadi salah satu masalah yang terjadi dalam interaksi sosial di masyarakat. Hal ini akan menimbulkan misunderstanding of culture values atau kesalapahaman nilai budaya. Menurut Hafied Cangara dalam bukunya pengantar ilmu komunikasi bahwa penggunaan bahasa merupakan salah satu indikator yang sering menghambat jalannya komunikasi. Karena bahasa yang digunakan terlalu banyak menggunakan jargon bahasa asing sehingga sulit dimengerti oleh khalayak tertentu.[13]

Contoh misunderstanding of culture values antarnegara yaitu, Mengacungkan jari tengah bagi orang Amerika adalah suatu penghinaan, namun bagi orang Indonesia, hal tersebut adalah biasa-biasa saja. Kalau hal tersebut bagi orang Indonesia sebagai sesuatu yang wajar saat berada di Amerika, maka kemudian yang akan terjadi sebuah penolakan karena orang Amerika merasa terhina.

Contoh antar daerah di Indonesia, ketika orang kota seperti Jakarta, berinteraksi dengan orang jawa, kemudian mengatakan “Mangga di makan” . orang jawa akan menyimpulkan bahwa orng Jakarta itu mempersilahkan makan. Padahal maksud dari orang Jakarta itu adalah menyuruhnya untuk memakan buah mangga yang ada.

Contoh lain orang jawa mengatakan pada orang sunda : geulis pisan. Orang jawa mengartikan itu sebagai pernyataan “cepat sekali”, namun orang sunda mengartikannya “cantik sekali”. Sama halnya dengan pepaya ketika orang Jakarta mengatakan pepaya artinya  buah papaya, berbeda makna dengan orang sunda yang mengartikan papaya sebagai gedang atau pisang dalam bahasa Indonesia. Perbedaan-perbedaan semacam ini, di sisi lain sebagai khasanah dan kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia, namun pada sisi lain, merupakan boomerang akan lahirnya disintegrasi sosial. Pertanyaan kemudian yang muncul, apakah keragaman dan perbedaan tersebut mesti dihilangkan, kemudian mengacu pada satu budaya yang harus diikuti oleh budaya-budaya yang berbeda tersebut?. Tentunya hal tersebut tidak mungkin bahkan mustahil terjadi. Oleh karena itu, dituntut sebuah kearifan dalam berbudaya yang mengedepankan nilai toleransi dan menghargai serta mengakui keberadaan budaya mereka. Di samping itu, pengetahuan akan budaya-budaya lokal sangat penting agar dapat tercipta keharmonisan dalam keberagaman berbudaya.[14]


BAB III

PENUTUP

A.    Simpulan

Interaksi sosial adalah hubungan sosial yang dinamis baik hubungan antar individu, individu dengan kelompok, maupun kelompok dengan kelompok, yang didasari atas tujuan yang sama. Dikatakan sebagai interaksi sosial apabila memenuhi syarat bahwa adanya kontak sosial dan komunikasi antar pelaku dengan menggunakan simbol-simbol serta  ada dimensi waktu.

Interaksi sosial juga dibagi dalam beberapa bentuk. Ada interaksi sosial bentuk asosiatif dan disosiatif. Dari kedua bentuk tersebut dibagi lagi menjadi beberapa bentuk lagi. Dengan pembagian bentuk asosiatif yaitu, kerja sama, asosiasi, asimilasi dan akulturasi. Sedangkan bentuk disosiatif terdiri atas, persaingan/kompetisi, kontravensi, dan konflik. Dapat disimpulkan bahwa interaksi sosial bentuk asosiatif mengarah pada persatuan dan kerja sama. Sedangkan bentuk disosiatif bisa mengarah pada perpecahan.

Beberapa permasalahan yang dapat menghasilkan bentuk interaksi sosial yang sifatnya asosiatif adalah, etnosentrisme, misunderstanding of culture value, stereotip, dan prasangka. Dari permasalahan tersebut, salah satunya yang dampaknya sangat bisa dirasakan adalah tentang kesalahpahaman nilai budaya atau misunderstanding of culture value. Karena Indonesia terdiri atas beragamnya suku bangsa, ras, budaya, bahasa, dan agama. Syarat interaksi sosial adalah adanya komunikasi antar pelaku, sedangkan adanya perbedaan bahasa akan menghambat komunikasi antar pelau. Apalagi jika adanya satu kata tetapi berbeda makna. Hal itu akan memicu kesalahpahaman dalam berkomunikasi dan bisa menimbulkan konflik. Oleh karena itu, pengetahuan akan budaya-budaya lokal sangat penting agar dapat tercipta keharmonisan dalam keberagaman berbudaya. Perlu adanya pemahaman akan bahasa dari daerah lain agar kedepannya bisa menujang komunikasi yang baik.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Asrul Muslim. “484 Interaksi Sosial dalam Masyarakat Multietnis”. Interaksi Sosial dalam Masyarakat Multietnis. Vol. 1, No. 13, Hlm. 484. http://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/diskursus_islam/article/download/6642/5402 (diunduh pada 25 Mei 2020)

H. Khomsahrial Romli. “Akulturasi dan Asimilasi Dalam Konteks Interaksi Antar Etnik”. Vol. 8, No. 1, Februari 2015 https://media.neliti.com/media/publications/62927-ID-akulturasi-dan-asimilasi-dalam-konteks-i.pdf (diunduh pada 2 Juni 2020)

Vivian, Riris Loisa. “ Interaksi Sosial dan Komunikasi Antar Etnik di Tempat Kerja”. Studi Kasus interaksi Etnik Tionghoa dan Melayu di  PT. Permata Topaz Khatulistiwa PontianakVol. 3, No. 1, Juli 2019. Hlm 268-273. https://media.neliti.com/media/publications/93124-ID-komunikasi-antarbudaya-di-kalangan-mahas.pdf (diunduh pada 28 Mei 2020)

Marselina Lagu. “Komunikasi Antarbudaya di Kalangan Mahasiswa Etnik Papua Dan Etnik Manado Di Universitas Sam Ratulangi Manado”. Vol. V. No.3. Tahun 2016.  Hlm. 2 https://media.neliti.com/media/publications/93124-ID-komunikasi-antarbudaya-di-kalangan-mahas.pdf (diunduh pada 31 Mei 2020)

Direktori File UPI. “Interaksi Sosial”. http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI/195009011981032-RAHAYU_GININTASASI/INTERAKSI_SOSIAL.pdf (diakses pada 2 Juni 2020)


[1] Asrul Muslim, “484 Interaksi Sosial dalam Masyarakat Multietnis”, Interaksi Sosial dalam Masyarakat Multietnis, Vol. 1, No. 13, Hlm. 484, http://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/diskursus_islam/article/download/6642/5402 (diunduh pada 25 Mei 2020 pukul 10. 55 WIB)

[2] H. Khomsahrial Romli, “Akulturasi dan Asimilasi Dalam Konteks Interaksi Antar Etnik”, Vol. 8, No. 1, Februari 2015 https://media.neliti.com/media/publications/62927-ID-akulturasi-dan-asimilasi-dalam-konteks-i.pdf (diunduh pada 2 Juni 2020 pukul 22.24 WIB)

[3] Asrul Muslim, “484 Interaksi Sosial dalam Masyarakat Multietnis”, Interaksi Sosial dalam Masyarakat Multietnis, Vol. 1, No. 13, Hlm. 484, http://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/diskursus_islam/article/download/6642/5402 (diunduh pada 25 Mei 2020 pukul 10. 55 WIB)

[4] Asrul Muslim, “484 Interaksi Sosial dalam Masyarakat Multietnis”, Interaksi Sosial dalam Masyarakat Multietnis, Vol. 1, No. 13, Hlm. 484, http://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/diskursus_islam/article/download/6642/5402 (diunduh pada 25 Mei 2020 pukul 10. 55 WIB)

[5] Vivian, Riris Loisa, “ Interaksi Sosial dan Komunikasi Antar Etnik di Tempat Kerja”, Studi Kasus interaksi Etnik Tionghoa dan Melayu di  PT. Permata Topaz Khatulistiwa PontianakVol. 3, No. 1, Juli 2019, Hal 268-273, https://media.neliti.com/media/publications/93124-ID-komunikasi-antarbudaya-di-kalangan-mahas.pdf (diunduh pada 28 Mei 2020 pukul 21.05 WIB)

[6] Marselina Lagu, “Komunikasi Antarbudaya di Kalangan Mahasiswa Etnik Papua Dan Etnik Manado Di Universitas Sam Ratulangi Manado”, Vol. V. No.3. Tahun 2016, Hlm. 2 https://media.neliti.com/media/publications/93124-ID-komunikasi-antarbudaya-di-kalangan-mahas.pdf (diunduh pada 31 Mei 2020 pukul 21.14 WIB)

[7] Asrul Muslim, “484 Interaksi Sosial dalam Masyarakat Multietnis”, Interaksi Sosial dalam Masyarakat Multietnis, Vol. 1, No. 13, Hlm. 484, http://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/diskursus_islam/article/download/6642/5402 (diunduh pada 25 Mei 2020 pukul 10. 55 WIB)

[8] Direktori File UPI, “Interaksi Sosial”, http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI/195009011981032-RAHAYU_GININTASASI/INTERAKSI_SOSIAL.pdf (diakses pada 2 Juni 2020 pukul 21.42 WIB)

[9] Asrul Muslim, “484 Interaksi Sosial dalam Masyarakat Multietnis”, Interaksi Sosial dalam Masyarakat Multietnis, Vol. 1, No. 13, Hlm. 484, http://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/diskursus_islam/article/download/6642/5402 (diunduh pada 25 Mei 2020 pukul 10. 55 WIB)

[10] Direktori File UPI, “Interaksi Sosial”, http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI/195009011981032-RAHAYU_GININTASASI/INTERAKSI_SOSIAL.pdf (diakses pada 2 Juni 2020 pukul 21.42 WIB)

[11] Asrul Muslim, “484 Interaksi Sosial dalam Masyarakat Multietnis”, Interaksi Sosial dalam Masyarakat Multietnis, Vol. 1, No. 13, Hlm. 484, http://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/diskursus_islam/article/download/6642/5402 (diunduh pada 25 Mei 2020 pukul 10. 55 WIB)

[12] Asrul Muslim, “484 Interaksi Sosial dalam Masyarakat Multietnis”, Interaksi Sosial dalam Masyarakat Multietnis, Vol. 1, No. 13, Hlm. 484, http://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/diskursus_islam/article/download/6642/5402 (diunduh pada 25 Mei 2020 pukul 10. 55 WIB)

[13] Asrul Muslim, “484 Interaksi Sosial dalam Masyarakat Multietnis”, Interaksi Sosial dalam Masyarakat Multietnis, Vol. 1, No. 13, Hlm. 484, http://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/diskursus_islam/article/download/6642/5402 (diunduh pada 25 Mei 2020 pukul 10. 55 WIB)

[14] Asrul Muslim, “484 Interaksi Sosial dalam Masyarakat Multietnis”, Interaksi Sosial dalam Masyarakat Multietnis, Vol. 1, No. 13, Hlm. 484, http://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/diskursus_islam/article/download/6642/5402 (diunduh pada 25 Mei 2020 pukul 10. 55 WIB)

Comments